Menyunting tajuk rencana atau editorial adalah kegiatan mengedit, mengubah, atau merapikan susunan letak atau penggunaan bahasa sebuah naskah tajuk rencana tanpa mengubah makna. Tujuan dari menyunting adalah untuk menyajikan teks yang baik dan benar sesuai dengan kaidah. Hal-hal yang disunting dalam tajuk rencana antara lain ejaan, tanda baca, diksi, kalimat, sistematika penulisan, dan kebenaran konsep.
Adapun langkah-langkah dalam menyunting antara lain:
bacalah kalimat per kalimat untuk menemukan kesalahan penggunaan ejaan, diksi, dan pola kalimatnya;
catatlah atau beri tanda pada kalimat yang akan disunting;
betulkanlah, suntinglah kalimat, kata, atau ejaan yang dicatat sebelumnya;
menambah kata, mengganti kata, pemakaian kata baku, dan mengurangi kata;
Ada dua teori yang mengkaji mengenai penyusunan tajuk rencana yaitu teori teori ANSVA dan teori SEES. Teori ANSVA merupakan kependekan dari lima tahap antara lain attention (perhatian), need (kebutuhan), satisfaction (pemuasan), visualization (visualisasi) dan action (tindakan). Kemudian teori SEES merupakan kependekan dari empat tahapan yaitu: statement, explanation, example, dan summary.
Secara umum dilihat dari sisi proses tahapan pekerjaan, menulis tajuk rencana tidak berbeda dengan menulis artikel opini. Secara sederhana, proses penyusunan tajuk rencana dibagi ke dalam empat tahap: (1) pencarian ide dan topik; (2) seleksi dan penetapan topik; (3) pembobotan substansi materi dan penetapan tesis atau pendapat utama dari keseluruhan uraian tajuk rencana; dan (4) pelaksanaan penulisan. Keempat tahapan tersebut dilakukan secara kolektif oleh tim editorial secara terjadwal. Jadi, berbeda dengan proses penulisan artikel yang dilakukan secara individual dengan tidak terjadwal.
Pada pencarian ide dan topik, tim editorial yang berjumlah 3-5 orang atau sesuai dengan kebutuhan, melakukan inventarisasi pokok-pokok berita baik yang dimuat pada media pers kita maupun yang terdapat pada surat-surat kabar dan majalah lain yang terbit hari itu. Kemudian tahap seleksi dan penetapan topic, berita yang telah diklasifikasikan menurut dimensi geografi dan dampaknya itu, dibawa ke dalam forum rapat tim khusus editorial untuk didiskusikan, dinilai, diseleksi, dan ditetapkan mana yang layak diangkat untuk menjadi topik tajuk rencana edisi berikut. Tahap yang ketiga, tesis tajuk rencana disampaikan melalui dua cara, terbuka dan tertutup. Terbuka apabila tesis dirumuskan dalam rangkaian kalimat ringkas, lugas, dan tegas secara tersurat sedangkan tertutup apabila kesimpulan yang hendak ditawarkan kepada khalayak pembaca tidak dirumuskan dalam kalimat yang ringkas, lugas, dan tegas. Tahap yang terakhir adalah pelaksanaan penulisan. Pada tahap ini, tim editorial secara musyawarah mufakat, menunjuk salah seorang anggota tim editorial untuk menuangkan hasil rapat yang membahas ide, topik, dan tesis tajuk rencana itu ke dalam sebuah karya opini tajuk rencana yang berbobot, enak dibaca, sekaligus mencerminkan identitas dan kredibilitas penerbitan sebagai perusahaan media berkelas yang professional.
Menurut William Pinkerton dalam Sumadiria (2004: 83) ada empat fungsi tajuk rencana, sebagai berikut.
Menjelaskan Berita
Tajuk rencana menjelaskan kejadian-kejadian penting kepada para pembaca. Tajuk rencana berfungsi sebagai guru, menerangkan bagaimana suatu kejadian tertentu berlangsung, faktor-faktor apa yang diperhitungkan untuk menghasilkan perubahan dalam kebijakan pemerintah, dengan cara bagaimana kebijakan baru akan mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi suatu masyarakat.
Menjelaskan Latar Belakang
Untuk memperlihatkan kelanjutan suatu peristiwa penting, tajuk rencana dapat menggambarkan kejadian tersebut dengan latar belakang sejarah, yaitu menghubungkannya dengan sesuatu yang telah terjadi sebelumnya. Dengan menganalisis sejarah sekarang, tajuk rencana dapat memperlihatkan keterkaitannya dengan masalah-masalah umum sekarang. Tajuk rencana dapat menunjukkan hubungan antara berbagai peristiwa terpisah: politik, ekonomi, atau sosial. Kadang-kadang tajuk rencana memuat suatu pandangan dan menunjukkan kesamaan dengan sejarah, yaitu kesamaan yang bertujuan untuk mendidik masyarakat.
Meramalkan Masa Depan
Suatu tajuk rencana kadang-kadang menyajikan analisis yang melewati batas berbagai peristiwa sekarang dengan tujuan meramalkan sesuatu yang akan terjadi pada masa datang.
Menyampaikan Pertimbangan Moral
Para penulis tajuk rencana akan berurusan dengan pertimbangan moral yang biasa disebut dengan “pertimbangan nilai”. Mereka berkata kepada para pembacanya tentang sesuatu yang benar dan salah. Mereka berjuang untuk sesuatu yang benar dan menyerang kebatilan.
Tajuk rencana berasal dari kata “tajuk” yang juga disebut “mahkota”, “patam”, atau “jamang” yang juga berarti perhiasan kepala seperti jambul dibuat dari bunga buatan jumbai. Oleh sebab itu Djafar H. Assegaff via Barus (2010: 142) mengatakan pula bahwa tidaklah salah jika disebut tajuk rencana merupakan mahkota surat kabar atau majalah. Spencer via Romli (2006: 91) menjelaskan bahwa tajuk rencana sebagai pernyataan mengenai fakta dan opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau memberikan interpretasi terhadap suatu berita yang menonjol sebegitu rupa sehingga kebanyakan pembaca surat kabar akan menyimak pentingnya arti berita yang sudah ditajukkan. Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbiatan terhadap persoalan actual, fenomenal, dan atau kontrovelsial yang berkembang dalam masyarakat (Sumadiria, 2005: 7).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari tajuk rencana adalah opini dari institusi atau media massa yang bersangkutan mengenai fakta atau opini yang berkembang di masyarakat.
Melalui tajuk rencana, surat kabar dan majalah memberi ulasan terhadap berita-berita yang bermunculan setiap hari dengan cara memberikan klarifikasi, menjelaskan latar belakang, menerangkan masa depan berita, merenungkan, dan menitipkan pesan-pesan moral pula di dalamnya. Tajuk rencana biasa ditulis oleh pemimpin redaksi atau wakilnya atau bisa juga oleh wartawan yang sudah berpengalaman puluhan tahun, yang matang dalam pemikiran, arif dalam menyampaikan penafsiran atau pendapat, dan jelas harus mengerti nilai berita (know news value) karena ia harus dapat menjelaskan argumentasinya yang kuat dan logis mengenai penyebab dan akibat suatu peristiwa serta sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas suatu kejadian, arah kecenderungan pemikiran yang berkembang di tengah masyarakatnya, serta masa depan berita bersangkutan.
Suara tajuk rencana bukanlah suara perorangan atau pribadi-pribadi yang terdapat di jajaran redaksi atau di bagian produksi dan sirkulasi, melainkan suara kolektif seluruh wartawan dan karyawan dari suatu lembaga penerbitan pers. Tajuk rencana merupakan suara lembaga, maka dalam penulisannya tidak diberi keterangan nama penulisnya (anonim).
Tajuk rencana dari pers papan tengah atau pers popular berlaku sebaliknya. Pers popular lebih berani, atraktif, progresif, dan tidak canggung untuk memilih pendekatan kritik yang bersifat telanjang serta tembak langsung. Pers papan tengah atau bahkan pers papan bawah justru memilih pertimbangan aspek sosiologis dalam pemiatan tajuk rencana. Pers papan atas memiliki kepentingan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan pers papan tengah atau pers papan bawah. Kepentingan yang sifatnya jauh lebih kompleks itulah yang mendorong pers papan atas cenderung bersikap konservatif dan akomodatif dalam kebijakan pemberitaan serta dalam pernyataan pendapat dan sikap melalui saluran resmi tajuk rencana.
Berikut contoh tajuk rencana yang terdapat dalam surat kabar.