Posted in Penyusunan dan Pengelolaan Media Selembar

Media Selembar : Pengertian, Fungsi dan Ciri-Ciri

Pengertian Media Selembar

            Media selembar atau lebih sering dikenal sebagai newsletter termasuk dalam media massa. Newsletter atau majalah perusahaan/ bulletin merupakan sarana bagi perusahaan atau organisasi yang menyampaikan informasi dari manajemen organisasi atau perusahaan kepada anggota organisasi atau kepada konsumen.

            Rumanti (2004: 119) menyebutkan bahwa newsletter merupakan sebuah tipe in hause jurnal  yang berisikan inti sari berita-berita (berita yang singkat) ukurannya bisa sama dengan majalah pada umumnya hamya jumlah halamannya yang lebih sedikit. Akan tetapi, menurut Ruslan (2010: 196) menyebutkan bahwa newsletter merupakan media informasi atau siaran berita yang singkat, ditujukan kepada pembaca yang sibuk atau tidak memiliki waktu yang banyak untuk membaca berita yang terlalu panjang dan terperinci.

            Menurut Kriyanto (2009: 162) menjelaskan newsletter  merupakan in hause journal yakni terbitan berkala yang diberuntukkan untuk kalangan sendiri.

Fungsi Media Selembar

            Newsletter memiliki beberapa fungsi. Menurut Kriyanto (2008:163), sebagai berikut:

  1. Newsletter  dapat memberikan dorongan untuk memperkuat komitmen dan memberikan yang terbaik bagi pembaca.
  2. Sebagai media publikasi melalui informasi tentang kegiatan tertentu.
  3. Newsletter dapat menjadi jembatan atau wahana penjalin hubungan dengan public internal dan eksternal.

Ciri-ciri Media Selembar

                    Agar menghasilkan sebuah media selembar atau newsletter  yang menarik dan berbeda dari media cetak yang lain, perlu diperhatikan ciri-ciri dari newsletter. Ciri-cirinya antara lain:

  1. Berisi informasi atau berita yang sesuai dengan minat pembacanya       (anggota perusahaan/ organisasi/ lembaga/ komunitas lainnya).
  2. Berisi informasi mengenai kegiatan perusahaan/ organisasi/ lembaga/ komunitas lainnya.
  3. Berupa lembaran, 1 lembar atau  2 lembar.
  4. Desainnya menarik dan penuh warna.
  5. Penerbitannya berkala.
Posted in Penyusunan dan Pengelolaan Media Selembar

Penyusunan dan Pengelolaan media

Dalam bahasa Indonesia, media selembar sering disebut sebagai nawala (newsletter). KBBI mendefinisikan newsletter sebagai lembaran cetakan berupa pamflet atau surat kabar yang berisi tentang perkembangan perusahaan dan diterbitkan pada waktu-waktu tertentu. Orang-orang yang bergelut di dunia komonikasi khususnya public relations pasti sudah tidak asing dengan seluk beluk newsletter.

Raslan (2010: 196) menyebutkan bahwa newsletter merupakan media informasi atau siaran berita yang singkat, ditujukan kepada pembaca yang sibuk atau tidak memiliki waktu yang banyak untuk membaca berita yang perlu panjang dan terperinci, namun, dalam penulisannya, harus diperhatikan baik itu ciri-ciri atau proses penyusunannya agar terlihat menarik. Setiap media massa pasti memiliki ciri-ciri tersendiri. Newsletter pun meliliki ciri-ciri berupa informasi atau berita yang sesuai dengan minat pembaca, berisi informasi mengenai kegiatan perusahaan/ organisasi/ lembaga komonikasi lainnya, informasi yang disajikan bersifat ringan serta mudah dimengerti, dan yang terpenting adalah berupa lembaran 1 atau 2 lembar.

Posted in Penyusunan dan Penyuntingan Tajuk Rencana

Penyuntingan Tajuk Rencana

Menyunting tajuk rencana atau editorial adalah kegiatan mengedit, mengubah, atau merapikan susunan letak atau penggunaan bahasa sebuah naskah tajuk rencana tanpa mengubah makna. Tujuan dari menyunting adalah untuk menyajikan teks yang baik dan benar sesuai dengan kaidah. Hal-hal yang disunting dalam tajuk rencana antara lain ejaan, tanda baca, diksi, kalimat, sistematika penulisan, dan kebenaran konsep.

Adapun langkah-langkah dalam menyunting antara lain:

  1. bacalah kalimat per kalimat untuk menemukan kesalahan penggunaan ejaan, diksi, dan pola kalimatnya;
  2. catatlah atau beri tanda pada kalimat yang akan disunting;
  3. betulkanlah, suntinglah kalimat, kata, atau ejaan yang dicatat sebelumnya;
  4. menambah kata, mengganti kata, pemakaian kata baku, dan mengurangi kata;
  5. memerika keterpaduan antar paragraf;
  6. memperhatikan kesalahan dalam paragraf; dan
  7. memperbaiki keruntutan antar paragraf.
Posted in Penyusunan dan Penyuntingan Tajuk Rencana

Penyusunan Tajuk Rencana

Ada dua teori yang mengkaji mengenai penyusunan tajuk rencana yaitu teori teori ANSVA dan teori SEES. Teori ANSVA merupakan kependekan dari lima tahap antara lain attention (perhatian), need (kebutuhan), satisfaction (pemuasan), visualization (visualisasi) dan action (tindakan). Kemudian teori SEES merupakan kependekan dari empat tahapan yaitu: statement, explanation, example, dan summary.

Secara umum dilihat dari sisi proses tahapan pekerjaan, menulis tajuk rencana tidak berbeda dengan menulis artikel opini. Secara sederhana, proses penyusunan tajuk rencana dibagi ke dalam empat tahap: (1) pencarian ide dan topik; (2) seleksi dan penetapan topik; (3) pembobotan substansi materi dan penetapan tesis atau pendapat utama dari keseluruhan uraian tajuk rencana; dan (4) pelaksanaan penulisan. Keempat tahapan tersebut dilakukan secara kolektif oleh tim editorial secara terjadwal. Jadi, berbeda dengan proses penulisan artikel yang dilakukan secara individual dengan tidak terjadwal.

Pada pencarian ide dan topik, tim editorial yang berjumlah 3-5 orang atau sesuai dengan  kebutuhan, melakukan inventarisasi pokok-pokok berita baik yang dimuat pada media pers kita maupun yang terdapat pada surat-surat kabar dan majalah lain yang terbit hari itu. Kemudian tahap seleksi dan penetapan topic, berita yang telah diklasifikasikan menurut dimensi geografi dan dampaknya itu, dibawa ke dalam forum rapat tim khusus editorial untuk didiskusikan, dinilai, diseleksi, dan ditetapkan mana yang layak diangkat untuk menjadi topik tajuk rencana edisi berikut. Tahap yang ketiga, tesis tajuk rencana disampaikan melalui dua cara, terbuka dan tertutup. Terbuka apabila tesis dirumuskan dalam rangkaian kalimat ringkas, lugas, dan tegas secara tersurat sedangkan tertutup apabila kesimpulan yang hendak ditawarkan kepada khalayak pembaca tidak dirumuskan dalam kalimat yang ringkas, lugas, dan tegas. Tahap yang terakhir adalah pelaksanaan penulisan. Pada tahap ini, tim editorial secara musyawarah mufakat, menunjuk salah seorang anggota tim editorial untuk menuangkan hasil rapat yang membahas ide, topik, dan tesis tajuk rencana itu ke dalam sebuah karya opini tajuk rencana yang berbobot, enak dibaca, sekaligus mencerminkan identitas dan kredibilitas penerbitan sebagai perusahaan media berkelas yang professional.

Posted in Penyusunan dan Penyuntingan Tajuk Rencana

Fungsi Tajuk Rencana

Menurut William Pinkerton dalam Sumadiria (2004: 83) ada empat fungsi tajuk rencana, sebagai berikut.

Menjelaskan Berita

Tajuk rencana menjelaskan kejadian-kejadian penting kepada para pembaca. Tajuk rencana berfungsi sebagai guru, menerangkan bagaimana suatu kejadian tertentu berlangsung, faktor-faktor apa yang diperhitungkan untuk menghasilkan perubahan dalam kebijakan pemerintah, dengan cara bagaimana kebijakan baru akan mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi suatu masyarakat.

Menjelaskan Latar Belakang

Untuk memperlihatkan kelanjutan suatu peristiwa penting, tajuk rencana dapat menggambarkan kejadian tersebut dengan latar belakang sejarah, yaitu menghubungkannya dengan sesuatu yang telah terjadi sebelumnya. Dengan menganalisis sejarah sekarang, tajuk rencana dapat memperlihatkan keterkaitannya dengan masalah-masalah umum sekarang. Tajuk rencana dapat menunjukkan hubungan antara berbagai peristiwa terpisah: politik, ekonomi, atau sosial. Kadang-kadang tajuk rencana memuat suatu pandangan dan menunjukkan kesamaan dengan sejarah, yaitu kesamaan yang bertujuan untuk mendidik masyarakat.

Meramalkan Masa Depan

Suatu tajuk rencana kadang-kadang menyajikan analisis yang melewati batas berbagai peristiwa sekarang dengan tujuan meramalkan sesuatu yang akan terjadi pada masa datang.

Menyampaikan Pertimbangan Moral

Para penulis tajuk rencana akan berurusan dengan pertimbangan moral yang biasa disebut dengan “pertimbangan nilai”. Mereka berkata kepada para pembacanya tentang sesuatu yang benar dan salah. Mereka berjuang untuk sesuatu yang benar dan menyerang kebatilan.

Posted in Penyusunan dan Penyuntingan Tajuk Rencana

Pengertian Tajuk Rencana

Tajuk rencana berasal dari kata “tajuk” yang juga disebut “mahkota”, “patam”, atau “jamang” yang juga berarti perhiasan kepala seperti jambul dibuat dari bunga buatan jumbai. Oleh sebab itu Djafar H. Assegaff via Barus (2010: 142) mengatakan pula bahwa tidaklah salah jika disebut tajuk rencana merupakan mahkota surat kabar atau majalah. Spencer via Romli (2006: 91) menjelaskan bahwa tajuk rencana sebagai pernyataan mengenai fakta dan opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau memberikan interpretasi terhadap suatu berita yang menonjol sebegitu rupa sehingga kebanyakan pembaca surat kabar akan menyimak pentingnya arti berita yang sudah ditajukkan.  Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbiatan terhadap persoalan actual, fenomenal, dan atau kontrovelsial yang berkembang dalam masyarakat (Sumadiria, 2005: 7).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari tajuk rencana adalah opini dari institusi atau media massa yang bersangkutan mengenai fakta atau opini yang berkembang di masyarakat.

Melalui tajuk rencana, surat kabar dan majalah memberi ulasan terhadap berita-berita yang bermunculan setiap hari dengan cara memberikan klarifikasi, menjelaskan latar belakang, menerangkan masa depan berita, merenungkan, dan menitipkan pesan-pesan moral pula di dalamnya. Tajuk rencana biasa ditulis oleh pemimpin redaksi atau wakilnya atau bisa juga oleh wartawan yang sudah berpengalaman puluhan tahun, yang matang dalam pemikiran, arif dalam menyampaikan penafsiran atau pendapat, dan jelas harus mengerti nilai berita (know news value) karena ia harus dapat menjelaskan argumentasinya yang kuat dan logis mengenai penyebab dan akibat suatu peristiwa serta sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas suatu kejadian, arah kecenderungan pemikiran yang berkembang di tengah masyarakatnya, serta masa depan berita bersangkutan.

Suara tajuk rencana bukanlah suara perorangan atau pribadi-pribadi yang terdapat di jajaran redaksi atau di bagian produksi dan sirkulasi, melainkan suara kolektif seluruh wartawan dan karyawan dari suatu lembaga penerbitan pers. Tajuk rencana merupakan suara lembaga, maka dalam penulisannya tidak diberi keterangan nama penulisnya (anonim).

Tajuk rencana dari pers papan tengah atau pers popular berlaku sebaliknya. Pers popular lebih berani, atraktif, progresif, dan tidak canggung untuk memilih pendekatan kritik yang bersifat telanjang serta tembak langsung. Pers papan tengah atau bahkan pers papan bawah justru memilih pertimbangan aspek sosiologis dalam pemiatan tajuk rencana. Pers papan atas memiliki kepentingan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan pers papan tengah atau pers papan bawah. Kepentingan yang sifatnya jauh lebih kompleks itulah yang mendorong pers papan atas cenderung bersikap konservatif dan akomodatif dalam kebijakan pemberitaan serta dalam pernyataan pendapat dan sikap melalui saluran resmi tajuk rencana.

Berikut contoh tajuk rencana yang terdapat dalam surat kabar.

Surat Kabar Suara Merdeka, 09 Oktober 2019
Posted in Pengertian dan Ragam Media Massa

Teknik Pengumpulan dan Penyuntingan Bahan untuk Konten Media Online

Teknik pengumpulan dan penyuntingan bahan dalam media online tentu berbeda dengan teknik pengumpulan dan penyuntingan bahan di media elektronik maupun di media cetak. Batasan yang akan dibahas kali ini adalah bahan berupa naskah berita. Penulis mendapatkan sumber dari salah satu pembaca berita di malang TV. Berdasarkan sumber, penulis menyimpulkan beberapa teknik pengumpulan bahan untuk konten media berupa naskah berita, diantaranya.

  • Mengidentifikasi informasi

Pada zaman sekarang atau zaman digital ini, ada banyak data atau informasi yang sulit untuk diketahui kebenarannya. Untuk itu, perlu dilakukan pengidentifikasian terhadap informasi tersebut.

  • Inventarisasi data

Inventarisasi data adalah proses dokumentasi data dengan menggunakan metode tertentu sehingga asset data mudah dicari ketika hendak digunakan kembali. Tujuan dari inventarisasi data ini adalah untuk menjaga kesinambungan proses kerja.

  • Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan bahan yang sangat banyak digunakan oleh masyarakat dan dilakukan secara langsung. Teknik wawancara dijadikan sebagai penguat informasi yang ditulis dalam sebuah tulisan.

  • Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan bahan yang juga sangat banyak dilakukan oleh masyarakat dan dilakukan dengan mendatangi langsung tempat pengumpulan bahan atau informasi tersebut. Sama seperti teknik wawancara, observasi merupakan penguat informasi yang ditulis dalam sebuah tulisan.

Teknik mengumpulkan bahan konten berita di media online, adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan peliputan berita yang ingin di publikasikan.
  2. Buat naskah berita dari hasil peliputan untuk dibacakan oleh pembaca berita.

Format berita

                    Judul                      :

                    Lokasi                    :

                    Hari/tgl :

                    Rep/Kam               :

                    LEAD: terdiri dari 1 paragraf dan berisi inti dari berita yang ingin disampaikan

               Dubbing: isinya adalah naskah berita

               Penutup: (contoh: dari kabupaten Malang. Julian Sukrisna. Malang TV.

Teknik menyunting bahan konten media online adalah sebagai berikut: memeriksa format, memeriksa teknik penulisan, memeriksa teras tulisan, memeriksa tubuh atau isi tulisan, memeriksa kurasi penulisan, memeriksa penutup tulisan, memeriksa kecermatan penulisan diksi, memeriksa efektifitas kalimat, memeriksa judul tulisan, dan memeriksa foto dan materi pelengkap.

Posted in Pengertian dan Ragam Media Massa

Teknik Pengumpulan dan Penyuntingan Bahan untuk Konten Media Elektronik

Membahas tentang teknik pengumpulan bahan untuk konten media elektronik, acuan yang dipakai untuk menyunting adalah salah satu stasiun radio. Batasan pembahasan mengenai proses penyuntingan bahan. Di sini bahan yang akan di bahas adalah naskah iklan. Adakalanya, radio setempat juga menawarkan jasa untuk membacakan script iklan oleh penyiarnya. Ini bagus, karena mampu menepis kebosanan pendengar yang lelah dijejali iklan yang bertubi-tubi. Beberapa teknik penyiaran naskah iklan, antara lain,

  • Mengumpulkan iklan

Undang biro iklan Anda untuk membicarakan rencana beriklan di radio.

  • Menyunting konten iklan
  • Diksi yang menarik (bersifat persuasive)
  • Menghindari iklan yang berbau SARA
  • Menyiarkan iklan
  • Berlatih membaca iklan

Maksud dari berlatih membaca iklan adalah supaya pada saat proses perekaman naskah iklan tidak diulang berkali-kali. Hal ini dilakukan untuk mengefisienkan waktu.

  • Memilih lagu-lagu dengan intro yang pas

Memilih lagu dengan intro yang pas maksudnya, penyiar radio harus bisa memperkirakan durasi penyampaian iklan dengan intro lagu. Agar pendengar mampu menangkap jelas isi iklan yang disampaikan.

  • Memilih part naskah iklan yang sekiranya dianggap bagus untuk disampaikan di awal.

Bagian naskah iklan yang dibaca apa lagi menarik akan menambah kesan tidak monoton.

  • Membaca dengan jelas dan tidak boleh bertabrakan dengan musik.

Hal yang paling perlu diperhatikan adalah vokal suara 

Posted in Pengumpulan dan Penyuntingan Bahan untuk Konten Media

Teknik Pengumpulan dan Penyuntingan Bahan Media Cetak

Teknik Penyuntingan Media Cetak

Penyuntingan perlu dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik untuk mendapatkan informasi yang efektif dan efisien. Teknik tersebut antara lain: memeriksa format, memeriksa teknik penulisan, memeriksa teras tulisan, memeriksa tubuh atau isi tulisan, memeriksa kurasi penulisan, memeriksa penutup tulisan, memeriksa kecermatan penulisan diksi, memeriksa efektifitas kalimat, memeriksa judul tulisan, dan memeriksa foto dan materi pelengkap.

Teknik-teknik penyuntingan dalam media perlu dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan yang menyebabkan akibat fatal bagi banyak orang. Dengan dilakukannya beberapa teknik di atas, tentu saja editor atau penyunting dapat menghasilkan naskah yang dipublikasikan dalam media dengan baik. Hal ini tentunya dapat berdampak positif bagi penerbit, penulis, dan juga pembaca.

Teknik Pengumpulan Bahan Media Cetak

Menurut KBBI pengumpulan adalah proses, cara, perbuatan, dan mengumpulkan. Pengumpulan Bahan adalah proses yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi. Jadi, pengumpulan bahan dalam media merupakan proses yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk dimuat dalam media dan dipublikasikan.

            Adapun teknik pengumpulan bahan dalam media adalah sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi informasi

Pada zaman sekarang atau zaman digital ini, ada banyak data atau informasi yang sulit untuk diketahui kebenarannya. Untuk itu, perlu dilakukan pengidentifikasian terhadap informasi tersebut.

  • Inventarisasi data

Inventarisasi data adalah proses dokumentasi data dengan menggunakan metode tertentu sehingga asset data mudah dicari ketika hendak digunakan kembali. Tujuan dari inventarisasi data ini adalah untuk menjaga kesinambungan proses kerja.

  • Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan bahan yang sangat banyak digunakan oleh masyarakat dan dilakukan secara langsung. Teknik wawancara dijadikan sebagai penguat informasi yang ditulis dalam sebuah tulisan.

  • Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan bahan yang juga sangat banyak dilakukan oleh masyarakat dan dilakukan dengan mendatangi langsung tempat pengumpulan bahan atau informasi tersebut. Sama seperti teknik wawancara, observasi merupakan penguat informasi yang ditulis dalam sebuah tulisan.

Posted in Pengumpulan dan Penyuntingan Bahan untuk Konten Media

Pengertian Penyuntingan dan Pengumpulan

Menurut KBBI (2009: 1106), pengertian penyuntingan adalah proses, cara, perbuatan menyunting atau sunting-menyunting sedangkan definisi menyunting adalah: (1) menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat); (2) merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah); (3) menyusun atau merakit (film, pita rekaman) dengan cara memotong-motong dan memasang kembali.

Orang yang pekerjaannya yang menyunting tulisan disebut editor atau penyunting. Untuk menjadi penyunting yang baik, seseorang harus memenuhi persyaratan, yaitu menguasai ejaan bahasa Indonesia, menguasai tata bahasa Indonesia, memiliki ketelitian dan kesabaran, memiliki kemampuan menulis, menguasai satu bidang keilmuan, memiliki pengetahuan yang luas, dan memiliki kepekaan bahasa.

Pengumpulan merupakan proses untuk mengumpulkan informasi yang dijadikan sebagai bahan pembuatan tulisan. Dalam melakukan pengumpulan informasi, dilakukan dengan beberapa teknik. Teknik-teknik tersebut tentu sangat berpengaruh dalam proses pengumpulan bahan. Teknik pengumpulan informasi tersebut akan dibahas dalam submasalah berikutnya.